Fulan Mantenan

Posted: J000000629 3, 2008 in Special Event

Sabtu 3 April 2010

Ini hari, kita mau ke Batang. Sudah sejak beberapa bulan menjelang hari pelepasan hak dan kebebasan gejolak kawula muda Fulan. Sekitar jam 09.00 WIB kita (saya, uud monox, dwi) sudah berkumpul di Kos nya Mbah Jan. Tinggal nunggu Ari. Sudah hafal dengan kebiasaan si anak satu ini, kita pun dengan sabar menunggu sambil memikirkan…”dimana kita bisa menitipkan motor?”

——————– REHAT

(memang tokoh utama kita dalam misi perjalanan ke timur ini adalah ARI. Karena sesuai dengan kesepakatan EO perjalanan ini, roadshow ke Pekalongan tidak akan ganyenk kalo Ari ditinggal begitu saja. Suasana dalam mobil tidak akan ramai. Dan yang jelas pembicaraan akan terasa monoton, garing, ra nyenengkeh, ra gayenk! Kita rindu celetukan narsis, kita kangen wajah melas ketika di foto, dan yang pasti kita kangen untuk membantainya dengan guyonan khas anak muda…maaf Ri,…kamu memang sungguh menggoda… )

—————— REHAT SELESAI

Hampir pukul 10, yang ditunggu akhinya datang juga. Dengan wajah polos, dan penampilan santai cenderung cuek, Ari langsung menghambur ke samping mobil, duduk merana, dia nyletuk….”gusi ku aboh cah!” (ra gagas le!)

Beberapa menit kemudian diputuskan, motor kita akan dititipkan di rumah mas Eko (ex-sarijan, seorang calon pengusaha buku dan kuliner).

Diplomasi dan perundingan dilakukan dengan awal yang kurang elegan cenderung kasar. Bisa-bisanya Ari ngomong ke mas Eko secara to the point.

Berikut kurang lebih transkrip percakapan…mulai dari AWAL pembicaaraan.

Ari                   : Halo ,..mas…mas Eko…

Mas Eko          : Halo…yaa..

Ari                   : Halo mas,..Mas iki aku Ari.. Aku titip motor neng gon mu ya!

Perhatikan pemirsa.. perkataan Ari dalam percakapan tersebut, seakan-akan menodong si empunya rumah…sungguh contoh buruk yang tak pantas ditiru.

Kita sempat saling pandang dengan tatapan mata penuh nafsu curiga. Dengan bahasa yang sedikit ruwet, akhirnya pembicaraan diambil alih oleh sang driver. Hasil diplomasi kasar Ari kemudian dihaluskan oleh Udoro membuahkan hasil. Langsung kita meluncur ke rumah dan menyerahkan tiga buah motor lengkap dengan kunci kontak nya. Bismillah…kita berangkat menuju Batang pukul 10.30 WIB.

Batang 3 April 2010 (Pkl 03.00 WIB)

Perjalanan dimulai. Sebelumnya kita mampir ke Carefour (yang dulunya ALFA Pabelan) untuk membeli perbekalan sekaligus oleh-oleh untuk Gilang. Setelah selesai kita langsung tancap gas menuju tempat yang dituju. Sampai Boyolali, tugas saya sebagai co-driver ternyata menuntut profesionalisme yang sangat tinggi. Meskipun bukan sebagai pengganti sopir, tetap saja memerlukan tanggung jawab yang sangat besar. Tugas saya  lebih kepada pelayan yang harus menjaga sang sopir terus terjaga dan tercukupi kebutuhan perut nya,

Memasuki daerah Salatiga, cuaca sudah mulai menampakkan perubahan. Ketika di Solo sampai Boyolali panas begitu terik, di Tengaran langit sudah digelayuti awan mendung. Dan akhirnya hujan turun,. Kemudian di Ungaran reda. Hujan lagi. Reda lagi, Hujan lagi. Sejak dulu begitulah cuaca, perubahannya tiada akhir.

Resiko tidak menghidupkan AC mobil membuat saya harus selalu siap mengelap kaca yang berembun sambil sesekali menyuapi sang driver dengan tatapan penuh…..persahabatan (awas jangan salah sangka!). Memasuki Tol semarang mobil melaju semakin kencang. Mampir di pom bensin sebelah rumah makan ayam goreng ibu Suharti. Disinilah saya menguras isi perut…muntah!.

Angin bertiup ke dalam mobil mak semribit. Di jalan tol pun sempat terjadi hujan deras. Memasuki Kendal, kita sepakat tengok kiri kanan. Sudah bisa ditebak bahwa perut para penumpang sudah mulai berkudeta minta diisi. Dwi dan Ari paling ngebet pengen sate. Mencari warung sate di Kendal tidaklah semudah mencari sate di Solo.

Kita berhenti di warung yang cukup besar di kiri jalan ring road. Kelihatannya tempat istirahat bagi para sopir angkutan besar semacam truk dan kendaraan besar lainnya. Masuk,  kami mengambil makanan yang disajikan secara prasmanan. Sama seperti di Poek – We. Kami berfikir nasi dengan ayam di Solo bisa didapat dengan uang Rp8.000,- dan dengan pede nya saya mengambil lele. Yang lain? Mereka pada ngambilin sayur bening dengan lauk tahu dan telur ceplok ukuran kecil. Minuman? Saya es the, monox teh anget, ari es jeruk, dwi es teh..dan uud….pelayanan istimewa dari mbak nya …indocafe

Sempat bingung, karena indocafe yang di sajikan ternyata didampingi dengan segelas air putih. Tradisi nya, air putih digunakan sebagi penawar dari rasa kopi tersebut. Dan yang membuat Susana menjadi semakin gayenk adalah ketika Uud di panggil sama mbak nya (masih muda..kira-kira umur 24 tahun) dengan panggilan Om…dari sini maka obrolan beralih ke panggilan kami masing-masing…dwi yang notabene paling kecil tubuhnya jangan-jangan nanti dipanggil dik sama mbak nya,…

Tiba saat pembayaran konsumsi, disepekati bayar sendiri-sendiri. Menu standar dengan lauk lele dihargai Rp9.500,- yang lain..dengan sayur bening dan lauk telur ceplok dihargai Rp10.000,- menggerutulah mereka ….

Anyway kita lanjutkan perjalanan sampai ke Batang. Sempat ragu-ragu ketika memasuki Alas Roban, kita putuskan untuk menelpon Gilang untuk jelasnya. Jalan yang kita ambil sudah betul. Dan sampailah kita di pintu gerbang kota Batang. Kira-kira 30 menit dari gerbang kita sudah sampai di Alun-alun pusat kota batang.

Sampai di Alun-alun Batang, kita berhenti diseberang jalan, kemudian duduk di trotoar Alun-Alun. Ketemu sama Londo, anak PBSID temennya Galih secara tidak sengaja. Dan juru runding kita adalah Ari. Dia sukses melontarkan celaan kepada orang yang tidak begitu kita kenal (walaupun satu almamater, satu angkatan –tunggal guru, tunggal ilmu ojo ganggu!-). Tapi dengan gaya khas, celetukan renyah ala anak SMP Ari mampu mencairkan suasana kaku dengan orang asing sekalipun. Harusnya dia kerja di peleburan saja.

Dari arah selatan sesosok tubuh besar mendekat. Hampir satu jam kita nunggu Gilang yang mandinya lamaaa, dan masih disambung dengan beli bensin sebelum berangkat (kebiaasaan yang tidak berubah dari jaman kuliah) akhirnya muncul juga! Tubuhnya makin berisi. Tidak kurus kerontang seperti masa semester awal kuliah. Badannya makin tegap, one pack! Genggaman tangannya sepeti sekop, langkah kakinya seperti tukang batu *berfikir…ini orang profesinya guru apa kuli yaaa???*

Kasepuhan kami datang!

Batang 3 April 2010 (Pkl 18.30)

Setelah mandi secara bergilir sesuai dengan urutan kegantengan acara dilanjutkan dengan sholat berjamaah di masjid sebelah rumah (kurang lebih 100m) rencana berikutnya adalah hang out ke Alun-alun. Mencoba merasakan ‘Sego Megono’. Pojokan Alun-alun, dekat Masjid Agung, sebelah lampu bangjo. Beberapa bungkus Sego Megono diletakkan dihadapan kami. Tanpa pikir pendek, kami langsung “HAJAAARRR BLEEEHHH….!!!”

Komentar
  1. fulan mengatakan:

    terimakasih atas apresiasi saudara candra untuk memposting Acara mantenan (yang walopun isinya cuma perjalanan menuju ke TKP, ibarat journey to the west, yg ditekankan pasti journeynya kan, ya to?) ini

    • classb04 mengatakan:

      sebenarnya perlu kisanak ketahui…ini artikel belum selesai. ibarat monkey king story..ini masuk pada bab ketika sun wu kong mengobrak-abrik kayangan. part kedua baru deh acara pengangkatan sun wu kong jadi murid nya dik cang e…..halah ndledek tekan kene…

  2. tani.maju.jaya mengatakan:

    trus kapan pengukuhan sun go kong yang sudah mempunyai jurus baru yaitu rasensuriken menjadi hokage ke 6? tolong di bahas adik cing!!!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s