ODE BUAT EXTRIMIST
Simak apa yang terjadi
Repetisi itu lagi …..
Ode. Ketika saya membuka program yang bernama kamus 2.03, sebuah program kamus yang saya install beberapa waktu yang lalu, terbetik suatu keinginan untuk mengetahui apa arti kata ode itu. Menurut kamus ini, ode merupakan sebuah syair atau pujian. Sedangkan menurut Webster New young American Dictionary, sebuah kamus setebal 701 halaman yang saya beli dengan harga sangat murah (pada waktu itu saya dapat dengan membongkar-bongkar isi rak pada stand ‘Books’, sebuah stand yang memajang buku impor di Solo Book Fair setahun yang lalu), kata ‘ode’ mempunyai arti a lyric poem that expresses a noble feeling with dignity (Webster, 1995: 403). Kesimpulannya sama. ode berarti sebuah syair berupa pujian.
Adapun judul diatas saya buat sebagai penghargaan bagi para ’extrimist’. Extremist??.. Ya!! Ode bagi mereka yang menempuh jalan (yang bisa dibilang) cukup ekstrim. Bukanlah yang saya maksud ekstrim disini adalah mereka yang berbuat melampaui batas dan berlebih lebihan dalam mengamalkan suatu perbuatan. Tapi kata ekstrim yang saya maksud disini adalah lebih condong kepada perbuatan yang jarang sekali dilakukan oleh beberapa orang. Mereka yang memanggul predikat ekstrim telah mampu mendobrak sebuah pola pikir yang banyak dianut oleh anak muda pada umumnya. Mereka yang berani ambil resiko, atau mereka yang membangun sebuah paradigma baru pola hidup anak muda.
Para ekstrimis yang saya maksud adalah mereka yang berani ambil resiko Menikah Muda!!!!. Menikah, kata yang sangat sering menjadi perbincangan hangat dikalangan anak muda. Apalagi bagi mereka yang tahu bahwa pernikahan itu adalah suatu hal yang bisa membuat hati mereka tenang. Karena salah satu tujuan menikah adalah menjaga diri agar tidak terjatuh kepada perbuatan yang dilarang oleh agama. Namun kadang menikah muda menjadi hal yang hanya dapat diperbincangkan saja. Banyak alasan yang kadang dikemukakan ketika muncul pertanyaan kenapa tidak langsung menikah saja daripada ngalor-ngidul pacaran.
Berbagai alasan dikemukakan. Mulai dari yang belum mempunyai pekerjaan yang tetap, belum bisa menghidupi istri, masih ingin bebas melihat dan berteman denagn banyak teman lawan jenis, atau yang lebih parah lagi ada yang bilang, “biarlah kita menyelami perilaku, watak dari pasangan kita, agar nanti tidak shock ketika sudah berkeluarga” dan lain sebagainya. Untuk alasan yang terakhir ini, sering digunakan oleh mereka yang mencoba mencari dalih bolehnya berpacaran. Meskipun sebagian dari mereka sebenarnya sudah tahu tentang hukum pacaran itu sendiri. Namun, apresiasi yang setingi-tingginya saya berikan kepada mereka yang sudah berani mengambil keputusan untuk menikah di usia yang masih muda.
“Kamu adalah perempuan paling cantik di negeriku Indonesia, kamulah yang nomor satu, aku tak akan bisa singgahi lagi perempuan yang lainnya….” Barangkali itulah kata-kata yang diucapkan oleh suami ketika memuji istrinya di hari pernikahan ataupun malam harinya. Kita bisa bayangkan betapa romantisnya, kata yang mereka saling lemparkan. Senyum yang saling dimunculkan,…. bahkan menurut seseorang yang sudah menjalani pernikahan beberapa waktu yang lalu, dia mengaku bahwa pernikahan itu begitu indah. Dia merasa diberikan Allah Ta’ala suatu karunia yang begitu besar dengan memberikannya seorang suami. Dengan gaya yang agak sok (entah sok apa) dia berusaha mengiming-imingi agar saya segera cepat menikah. Ahhhh…menikah. Hmmmmmm..
Katanya, menikah itu ternyata sangat indah. Ayat-ayat cinta mah lewat, Fahri lewat. Apa benar begirtu? Saya sendiri baru bisa mengiyakan apa saja yang dia katakan. J J . Yang menggembirakan, dia ikut mendoakan saya agar cepat bertemu dengan sungai nil (jodoh -red).
Berita gembira datang dari beberapa teman kita. Paling tidak pada akhir bulan dan awal bulan agustus ini ada tiga orang yang melepaskan masa lajangnya. Ketiganya adalah perempuan. Yang dua berasal dari kelas yang berbeda, adapaun yang satu adalah teman satu kelas. Memang penikahan ini tidak dibesar-besarkan. Hanya beberapa (bahkan sedikit saja ) yang diundang. Bukan apa-apa, hanya mungkin mereka ingin nuansa yang khidmat, dan tenang, tanpa ekspos besar-besaran dari media. Mereka adalah A, M, dan F.
Apa yang mereka lakukan patut diajungi jempol. Kalo perlu bahkan dua jempol. Sangat jarang diantara pemuda yang berpemikiran seperti mereka. Kita doakan semoga mereka berbahagia dengan pernikahan mereka. Dan kita berdoa agar kita bisa mengkuti jejak mereka untuk membangun sebuah keluarga untuk menyempurnakan agama kita. Semoga!!

Ah ini dia makanan kesukaan pak polisi Boneng, ode-ode… ting..
ode-ode wes mlebu rung comen angel eram.. eram’e diup load, masakini eram gur 128 MB…
ode iku op to can?